Senin, 20 April 2009

sekedar omong kosong

Melalui kesukaran dan kehinaan jiwa burung-burung ini menyusut
Ke dalam kefanaan, sementara tubuh mereka menjadi debu.
Stelah benar-benar dimurnikan mereka menerima hidup dari Cahaya hadirat Ilahi
Sekali lagi mereka menjadi hamba-hamba dengan jiwa yang segar,
Sekali lagi di jalan lain mereka penuh dengan ketakjuban
Perbuatan dan diam mereka pada masa lalu telah dienyahkan dan dilenyapkan dari lubuk dada mereka
Matahari kehampiran bersinar terang dari diri mereka
Jiwa semua mereka diterangi oleh cahayanya
Di dalam pantulan wajah tiga puluh burung dunia
Mereka lantas memandang, itulah Simurg:
Tidak diragukan lagi bahwa Simurg adalah tiga puluh burung
Semua bingung penuh ketakjuban, tak tahu apa mereka ini ataukah itu.
Mereka memandang diri mereka tidak lain kecuali Simurg.

Apa yang harus kulakukan, O Muslim? Sebab aku tak kenal diriku
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Zoroaster, buka pula Muslim.
Aku tidak dari Timur, Barat, darat atau lautan.
Aku tidak dicipta dari tanah, air, udara atau api
Aku tidak berasal dari perputaran angkasa atau pusaran debu, tidak dari keberadaan dan wujud.
Aku tidak berasal dari India, Cina, Bulgaria, ataupun Saqsin
Aku tidak berasal dari kerajaan Irak, atau negeri Khurasan
Aku tidak berasal dari dunia ini, dunia yang akan datang, tak dari surga atau neraka.
Aku tak berasal dari adam ataupun hawa
Tak dari taman firdaus atau kediaman malaikat Ridwan
Tempatku tak bertempat, jejakku tanpa jejak
Tempat asalku juga bukan tubuh dan jiwa, sebab aku adalah milik jiwa kekasih

Ad ataman indah, penuh pohon lebat
Pohon anggur , padang rumput hijau
Seorang sufi duduk, karam dalam tafakkur
Bertanya seseorang, “Hai sufi, mengapa tak Kupandang Tanda-Tanda Yang Rahman di sekitarmu, yang oleh-Nya dititah supaya kita renungi?”
Sufi menjawab, “ Tanda-tandaNya kulihat dalam diriku
Ada pun yang di luar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar